Kamis, 22 November 2007

merubah peradaban

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk Agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat.” (Q.S An-Nashr:1-3)

Ayat Al-Qur’an di atas menjelaskan tentang kemenangan kaum muslimin terhadap kaum kafir Quraisy ketika Futtuh Mekkah. Ketika itu, beribu-ribu pasukan muslimin dari Madinah melakukan pembebasan ke kota suci Mekkah dengan kedamaian. Tidak ada darah yang menetes. Tidak ada perlawanan apapun. Bahkan setiap orang dijamin keamanannya. Kekejaman yang pernah dilakukan oleh kaum kafir Quraisy terhadap kaum muslimin ketika itu tidak dibalas dengan kekejaman pula, akan tetapi kaum muslimin justru membawa kedamaian bagi kaum Quraisy.

Sejak Futtuh Mekkah tersebut, pemerintahan Islam yang dipimpin sendiri oleh Nabi Muhammad saw, masyarakatnya hidup berdampingan dengan harmonis. Setiap anggota masyarakat menjalankan tugasnya dengan keimanan kepada Allah SWT. Ukhuwah Islamiyah terbentuk sangat kuat diantara umat muslim. Islam mengajarkan bahwa setiap muslim adalah bersaudara. Dalam hadist Rasulullah SAW dikatakan bahwa setiap muslim adalah seperti tubuh yang satu, apabila salah satu bagian tubuh sakit maka semua tubuh akan sakit.

Hubungan antara umat muslim dengan umat beragama yang lain pun berlangsung secara harmonis. Umat muslim melindungi umat lain yang minoritas sehingga timbulah sikap saling menghormati dan tolong menolong di antara umat beragama saat itu. Hukum ditegakkan secara adil tanpa melihat agama, warna kulit, maupun silsilah keluarga. Bahkan dalam hadist Rasulullah SAW, bahwa apabila putri beliau sendiri, Fatimah, terbukti mencuri, maka Rasulullah sendiri yang akan memotong tangannya. Hal itu sangat berbeda dengan keadaan yang terjadi saat ini.

Keharmonisan dalam bermasyarakat tersebut berlangsung hingga pemerintahan dipimpin oleh khulafahur rasyidin dan seterusnya. Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Bahkan jauh meninggalkan Barat (Eropa). Pada saat itu Islam mempunyai pusat studi ilmu yang sangat maju berupa perpustakaan yang tersebar di berbagai wilayah kekhilafahan Islam. Hasil karya ilmuwan muslim seperti Ibnu Sina (Avicena) dan Al Khawarizm digunakan sebagai rujukan bagi ilmuwan Barat yang ketika itu berada dalam massa kegelapan (dark age), dimana pada masa-masa tersebut ilmu pengetahuan terkekang oleh dogma agama. Ilmuwan seperti Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei ditangkap dan dihukum akibat ilmu yang mereka publikasikan tidak sesuai dengan dogma agama. Bahkan ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini adalah hasil pemikiran ilmuwan muslim yang diadopsi oleh ilmuwan barat, seperti dalam bidang kedokteran, ekonomi, psikologi, astronomi, dsb.

Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan agama. Bahkan Rasulullah berpesan agar tidak berbuat sesuatu tanpa didasari ilmu. Ilmu di dalam Islam bersumber pada Al-Quran dan As Sunah. Apa yang ada diantara keduanya merupakan dasar-dasar ilmu yang berkembang sampai sekarang ini. Rasulullah SAW tidak mewariskan bangunan megah seperti piramida oleh fir’aun. Namun Rasulullah SAW telah mewariskan Al-Quran dan As Sunah, sebagai pedoman hidup di dunia dan akhirat kepada seluruh umat.

Dalam menyampaikan sebuah kebenaran memang berat. Terkadang kebenaran dianggap sebagai suatu hal yang aneh. Bahkan bagi orang yang menyampaikan kebenaran dicap sebagai orang yang aneh, sok alim, kolot, ditertawakan, ndeso dan berbagai macam sebutannya, Naudzubillah, bahkan sebutan tersebut diucapkan oleh saudara seiman. Rasulullah SAW sendiri ketika berdakwah mendapat berbagai macam tuduhan dan fitnahan dari orang-orang kafir. Rasulullah dicap sebagai orang gila dan seorang pendusta. Padahal apa yang disampaikan oleh beliau adalah kebenaran, firman Allah dalam surat Al-Qalam, “Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (Q.S 68:2)

Tantangan yang sangat berat dalam menyampaikan kebenaran disebabkan perbedaan persepsi atau standar dalam acuan menentukan kebenaran. Sebagai umat muslim yang mengakui kebenaran Al-Quran, tentunya Al-Quran-lah yang menjadi acuan kita. Setiap yang bertentangan dengan Al-Quran dan As Sunah kita jauhi. Namun kebanyakan manusia telah jauh dari Al-Quran. Mereka justru cenderung mengikuti hawa nafsunya dengan mengatasnamakan hak azasi manusia, demokrasi, dan kebebasan berekspresi manusia bebas melakukan apa saja dan hanya berdasarkan nafsu belaka.

Kehidupan hedonisme yang sedang menjangkit dikalangan remaja dan pemuda muslim saat ini sungguh luar biasa dampaknya. Akibat dari pengaruh yang buruk dari lingkungan membuat remaja dan pemuda muslim saat ini jauh dari Al-Quran dan Sunnah Rasul. Mereka banyak yang lalai dari perintah dan larangan Al-Quran. Seperti berduaan dan bergandengan tangan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Mereka dimabukkan oleh gemerlapnya kehidupan dunia. Banyak remaja sekarang ini yang hanya ikuta-ikutan saja dan bertindak tidak berdasarkan ilmu. Hal inilah yang menyebabkan tumpulnya ketaatan kepada Allah SWT. Padahal sebagai seorang pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa, pikiran dan tenaganya sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa kita ini. Seorang pemuda dikenal dari ilmu dan ketaqwaannya, bukan dari yang lain.

Lalu, apa hubungan antara agama, ilmu, dan kemenangan seperti yang terjadi pada Futtuh Mekkah? Lalu, apa hubungan antara agama, ilmu, dan kebenaran? Agama adalah pilar utama yang direfleksikan melalui amalan yang sesuai dengan ilmu sehingga tercapailah tujuan, yaitu kemenangan (al Falah). Kemenangan itu adalah peradaban manusia yang sesuai dengan amanat yang diberikan kepada umat manusia, yaitu menjadi khalifah di bumi Allah ini. Hal ini tidak akan terjadi apabila pilar utama berupa agama dan ilmu jauh dari kebenaran menurut Al-Quran dan As Sunah.

Sebagai umat muslim yang mempunyai kitab suci yang sama, yaitu Al-Quran, dan sebagai sesama saudara yang mempunyai panutan yang sama, yaitu Nabi Muhammad SAW, kewajiban kita adalah saling mengingatkan. Manusia tetaplah manusia yang banyak melakukan kesalahan. Semua manusia mempunyai kedudukan yang sama tanpa terkecuali di mata Allah SWT, yang membedakan hanyalah ketaqwaan terhadap Allah SWT.

Kita rindu akan kedamaian di negeri ini. Setiap anak bangsa di negeri ini telah bosan dengan pertikaian yang terjadi, bosan dengan kondisi bangsa yang sedang krisis multidimensi, krisis akhlak dan krisis moral. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kemenangan yang telah dijanjikan Allah, kita harus bersama-sama mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya berdasarkan ilmu yang kita miliki.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

(Q.S Al A’Raaf : 96)